Syarat Maksimalkan Fungsi Disc Brake Floating

Syarat Maksimalkan Fungsi Disc Brake Floating


Cakram floating. Memang oblak dari sananya

Piringan pengurang kecepatan, alias cakram rem model floating bagai peranti wajib gaul pecinta modifikasi. Jika belum pakai rasanya galau. Tapi, kalau salah mengerti soal komponen yang punya sebutan keren floating disc brake ini, biker bisa panik.

Tapi, soal fungsi cakram floating, mirip kasus fork upside down yang dibahas di edisi lalu. Contoh awam, pemahaman soal namanya. Floating berarti mengambang. Tapi, tak berarti piringan besi ini ngambang kayak perahu di air. Maksudnya, “Brake line atau jalur pengeremannya dibuat tidak kaku. Agak-agak oblak kiri-kanan,” jelas Sui Kiong, pedagang variasi toko Yonk Jaya Motor, di Jl. Ahmad Yani, Bandung.

Karena fleksibel, cakram floating kadang mengeluarkan bebunyian, seperti kricik-kricik. Sebab, ada jarak main antara bagian yang terkunci di teromol dan bagian floating sebagai brake line-nya.

Jadi, jangan kaget dengan bebunyian itu. “Justru jarak main itu yang bikin pengereman floating disc brake lebih bagus,” ujar M. Abidin, Assistant General Manager Technical Support PT Yamaha Motor Kencana Indonesia.

Diperjelas Abidin, brake line fleksibel punya kelebihan. Kesatu, karena biasanya diameter cakram floating lebih besar, pengereman lebih pakem. Lalu, diameter yang besar pun cepat melepas panas akibat pengereman. “Floating juga mempercepat pelepasan panas. Mencegah rem macet. Dan, floating tadi juga mencegah terjadinya cakram melengkung karena panas,” lanjutnya.

So, karena fungsi fleksibilitas tadi, jangan justru membuat kaku brake line cakram floating. Misalnya, dengan memasang ring tambahan sebagai pengganjal cincin floting. Sebab kelebihannya akan hilang.

Tapi, Abidin juga tidak merekomendasi jika bagian floating terlalu oblak. Selain menimbulkan bunyi yang bikin risih, juga bikin pengereman terganggu.

“Biasanya timbul getaran. Kalau efeknya kecil, paling getaran muncul di handel rem. Tapi, floatingnya terlalu besar, getaran terasa sampai di setang,” sebut Hokky Krisdianto, pembalap road race senior yang pernah menggunakan cakram floating di tunggangannya.

Nah, cakram floating yang baik, jarak main floating tidak banyak. Atau, agar tidak terlalu goyang, dipasang ring per gelombang yang bentuknya seperti daun. Hasilnya, brake line tetap punya jarak main, tapi tidak mudah bergoyang.

Namun, baik Sui Kiong, M. Abidin, maupun Hokky Krisdianto mengakui, cakram floating kurang begitu pas jika dipasangkan dengan kaliper standar yang dipakai di motor bebek atau sport cc kecil. Karena biasanya motor-motor ini biasanya menerapkan kaliper model piston satu arah, yaitu mendorong ke arah ban.

“Aslinya, floating disc brake dipasangkan dengan kaliper model radial. Kaliper radial punya piston yang mendorong saling berlawanan. Bisa piston ganda, 4 atau 6 piston. Dan itu biasanya di motor cc besar,” ujar mereka kompak.

Penjodohan ini ada korelasinya. Sebab cakram floating brake line-nya bergerak, maka si penjepitnya alias si kaliper harusnya yang diam. Sebaliknya, jika si cakram yang duduk kaku di teromol, maka kaliper yang harus bisa fleksibel. “Ini dimaksud agar rem tidak mengunci jika cakram memuai karena panas,” jelas Abidin.

Tapi kan…?! Cie… mulai nih cari alasan! Iya, sih. Biasanya memang biker masih mengawinkan cakram floating dengan kaliper standar motor mereka. Sudah pasti resikonya fungsi floating tidak maksimal. Bahkan, jika terlalu banyak oblak berisiko rem tidak pakem,” tutup Abidin.

So…, lebih baik cakram floating dijodohkan dengan kaliper radial. (motorplus-online.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s